miscellaneous


  Hati Sebening Embun  

   #1 Mereka Hanya Tidak Tau

Sofi membaca pesan yang masuk ke layar gawainya dengan tangan gemetar. Bayangan terburuk jika kakaknya sampai meninggal membuatnya sedih dan lemas. Ia segera memasukkan berkas penjajakan kelulusan yang belum ia selesaikan ke laci meja belajar kosnya. Ia turun ke lantai satu dengan tas ransel kecil di punggung dan segera naik microlet menuju terminal. Sepanjang perjalanan Malang ke Jombang ia memanjatkan doa dari hati terdalamnya, berharap Tuhan tidak mengambil nyawa kakaknya dengan cara terkutuk ini. Ia tak kuasa menahan air matanya, mengingat kebersamaannya dengan Rani, satu satunya saudara yang ia miliki semenjak kecil. Sofi memang tidak terlalu dekat dengan kakaknya karena sedari kecil Rani sangat pendiam dan tertutup. Ia lebih sering menghabiskan waktu di rumah dengan membaca, sedang Sofi banyak menghabiskan waktu bersama teman di luar rumah. Namun Sofi selalu memiliki insting untuk melindungi kakaknya yang usianya hanya terpaut satu setengah tahun darinya itu, baik dari gangguan anak-anak laki iseng maupun teman-teman perempuan yang resek yang suka memanfaatkan Rani yang penakut dan tidak bisa membela diri. Dulu ketika mengaji, sandal anak-anak perempuan sering disembunyikan Agus, tetangga mereka termasuk milik Rani. Rani pulang tanpa alas kaki, menangis. Namun keesokan harinya, sandal itu sudah di depan rumah karena malam harinya Sofi menghajar Agus di musholla. Ketika bermain air di sungai, Sofi harus memastikan Rani tidak terpeleset dan terkilir karena Rani kerap kali harus diurut ke tukang pijat karena jatuh, keseleo, atau terkilir. Ketika Rani tidak Bersama Sofi, biasanya ia bersama nenek. Sejak kecil nenek sangat sayang Rani, karena Rani adalah cucu pertama dan sangat rapuh. Sedang Sofi, harus cukup bersabar karena nenek menganggap kelahirannya terlalu awal dan membuat Rani “kesundulan”. Sikap nenek nyata-nyata sering pilih kasih.
“Stasiun..Stasiun” kernek berteriak lantang. Sofie segera bangkit dan turun. Ia mencari mikrolet menuju Rumah Sakit. Tak lama, ia sudah di depan IGD. Matanya langsung menyusuri ruangan cukup luas itu. Dilihatnya ayah sedang menunggui Rani dengan wajahnya yang mulai menua. Sedang ibu, matanya sembab dan kelihatan sekali tubuh kurusnya Lelah. Ini bukan pertama kali Rani collapse. Sejak dia divonis schizophrenia, ia kerap kali kambuh, biasanya karena ia mulai sulit minum obat dan kurang tidur. Dengan wajah lesu karena kehilangan banyak darah, Rani tersenyum melihat Sofi datang.
Segera Sofi membelai tangan kiri Rani yang sudah diperban. “Kenapa kak?” Ia mencoba tersenyum lembut. Melihat kakaknya dalam kondisi begini, membuat perasaanya sedih tak karuan. Meski Sofi tau, pertanyaan kenapa, Why, itu tak layak ditanyakan kepada pasien jiwa.
“Aku berdosa ya Sofi. Aku capek sekali. Tidak ada gunanya lagi aku hidup. Hanya susah saja yang kurasa”. Katanya dengan air mata yang berlinangan. Ibu menatap Sofi dengan tatapan nanar. Sejak merawat Rani, ibu tampak semakin kurus. Ayah tidak beda. Uban dan keriput tampak semakin banyak semenjak Rani sakit. Tentu ayah terpukul sekali. Rani yang sejak kecil juara kelas. Siswa teladan di tingkat SD dan selalu The Best Three sampai SMA kelas 2 harus berakhir sebagai orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Sejak itu, seolah ayah dan ibu Rani tampak mendadak tua. Nenek tidak kalah sedihnya. Ketika ia meninggal, ayah menemani Rani selama berhari hari karena hawatir Rani terpukul dengan kepergian orang terdekatnya itu. Sejak kecil Rani sangat relijius. Ia selalu mengaitkan segala keputusan dalam hidupnya dengan halal-haram, dosa dan pahala. Sehingga Sofi yakin, tidak ada kaitan antara besar kecilnya iman dengan sakit jiwa. Rani sakit jiwa bukan karena kurang iman atau tidak bersyukur. Sofi yakin, sifat penakut, pemalu dan tertutup Rani memang sudah gejala awal. Namun mereka tidak memahaminya. Apalagi, almarhum kakak ayahnya yang belum sempat ia temui, juga meninggal dalam kondisi sakit yang sama. Semua info ini ia dapat dari dokter Novia, dokter jiwa yang pernah dikunjungi Rani.
Kondisi Rani membaik. Luka iris di tangan kirinya belum terlalu dalam dan tidak mencapai nadi. Mereka pun pulang keesokan harinya. Sebelum pulang, mereka dirujuk dulu ke poli jiwa. Sofi menemani Rani berdiskusi dengan dokter Novia.
“Mbak Rani hobinya apa sekarang?”
“Saya suka menjahit dok. Tapi sekarang tidak.” Jawab Rani memandang dokter Novia lurus. Efek obat membuatnya bergerak kaku. Apalagi setelah collapse berkali kali, dosisnya ditambah.
“Kalau boleh tau, kenapa mbak Rani berhenti menjahit? Dokter muda yang cantik itu membetulkan letak kaca matanya dan menunduk, mendekatkan wajah putih bersihnya ke arah Rani sambil tersenyum.
“Sebenarnya saya ingin kuliah dok. Tapi ayah saya melarang.” Jawaban Rani membuat kaget Sofi. Sangat tak terduga.
“Ehm…tapi mbak Rani suka menjahit?” dokter itu bertanya lagi.
“Iya. Saya suka. Makanya saya minta les menjahit ke ayah.” Sofi menelan ludah. Tenggorokannya kering. Perasaannya campur aduk. Meski sudah mencoba mempelajari sikap dan kebiasaan baru Rani, toh ia masih sering terkejut dengan apapun yang Rani lakukan. Sakit jiwa tidak hanya merubah pola pikir, ia juga merubah pola perilaku dan rasa.
Sofi mengingat satu persatu peristiwa-peristiwa yang Rani alami sebelum ia kehilangan kesadarannya. Siang itu, wali kelas Rani memanggil ayahnya ke sekolah. Ayah terkejut bukan main karena wali kelas Rani menuduh Rani menggelapkan uang kelas. Rani adalah bendaharanya. Selain itu, wali kelas juga melapor kalau Rani mengirim surat cinta ke kakak kelasnya, Hendra. Sampai rumah, Rani menjelaskan bahwa uang kelas itu dipinjam temannya, tapi ia tidak berani mengatakan karena ibu wali kelas itu lebih percaya dengan Ine, temannya yang pinjam uang. Soal surat cinta itu, teman-temannya yang melakukan. Rupanya masalah-masalah kecil seperti itu tidak bisa ditanggung Rani. Ia mulai tidak betah sekolah, semakin minder dan malu. Belum lagi, diam-diam dia memang memendam rasa cinta pada Hendra. Perasaan takut pada wali kelas, malu karena dituduh mengirim surat, cinta yang terpendam nyata-nyata menjadi beban berat bagi jiwa rapuh Rani. Ketika mengambil rapor semester 1, ayah terkejut. Anaknya yang pernah jadi siswa teladan itu, mendadak punya beberapa nilai di bawah KKM. Wali kelas yang kurang simpatik itu tidak menjelaskan dengan baik perihal Rani. Beberapa waktu setelah itu, Rani mulai sering sakit maag, asam lambungnya naik hingga malam itu ia harus dilarikan ke rumah sakit karena meraung-raung kesakitan semalaman. Sejak malam itu, seolah cahaya kebahagiaan di keluarga itu sirna. Hari hari berubah mencekam dan tangisan sedih, takut dan hawatir selalu datang dan pergi. Belum lagi gosip yang beredar, liar menggelinding bagai bola api. Banyak orang mencibir dan menambah-nambahi cerita. Setiap Sofi ke warung, beberapa orang yang kurang simpatik akan bertanya, “Kakakmu kambuh ya? Semalam teriak-teriak ya? Kasian ya. Padahal pinter. Ada juga orang yang sok tahu, “Kena santet mungkin, makanya jangan terlalu dimanja. Suka dipaksa jadi juara kelas mungkin,” Ada juga yang dengan tulus menyampaikan doa doanya agar segera diberi kesembuhan. Kerap kali Sofi pulang dengan air mata di pipi. Nalarnya tak menjangkau. Bagaimana mungkin orang berkata seenaknya mengenai keluarganya padahal mereka tidak tau apa-apa. Sejak saat itu, Sofi menyadari. Tidak banyak yang orang ketahui tentang penyakit jiwa. Sejak Rani mulai sakit, Sofi sadar. Keluarga adalah orang yang paling tau tentang pasien dan komentar orang itu hanyalah karena minimnya pengetahuan mereka. Lama lama ia mendengar komentar tidak layak dengar itu dengan hati legowo. “Mereka hanya tidak tahu” bisiknya pada diri sendiri.
Ia memasukkan makanan bekal dari ibu ke dalam tasnya, mendengarkan keluh kesahnya saat dia jauh di Malang. Karena pengaruh obat, Rani sedang tidur pulas di kamarnya. Ibu berkisah, Rani sering menyindir ibu, bahwa ibu pilih kasih ke Sofi. Bahwa ibu malu punya anak seperti Rani. Ibu yang dengan sabar merawat Rani di antara cercaan dan tuduhannya, meneteskan air mata dan meminta agar Sofi mendoakan kesehatan dan kesabaran untuknya. Sofi merasakan beban sang ibu. Ia ingin segera wisuda dan menemani ibu menjaga Rani. Tiba tiba notifikasi pesan wa di gawainya berbunyi. Rupanya, Aryan, kekasihnya sejak semester satu itu sudah menyelesaikan penjajakan untuknya. Ia tidak sabar untuk bertemu dan menceritakan semua yang ia alami tiga hari ini di rumah.
Bak bunga engkau menari
Harummu menyeruak bahkan dalam sunyi
Namun engkau bukan satu satunya bunga
Dan angin tidaklah lelah menggoda
Kuatkan kuatkan tangkaimu…
Jombang di bulan Juni….


No comments:

Post a Comment