Wednesday, 25 November 2020

Pengalaman Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dalam Masa Pandemi

Pengalaman Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dalam Masa Pandemi

Pandemi Covid-19 mau tidak mau merubah tidak hanya wajah dunia, melainkan seluruh sistem yang ada. Pola pikir dan pola hidup harus menyesuaikan agar segala sendi kehidupan terus berjalan. Dunia pendidikan pun merasakan imbasnya. Pemerintah, guru, siswa bahkan wali murid harus berbenah menyambut era new normal.

Sebelum masa pandemi, kegiatan belajar mengajar memang sudah bersentuhan dengan teknologi namun tidak semesra sekarang. Sebagai pengajar, saya merasakan dampak pandemi ini dalam beberapa hal yang semuanya membuat saya sadar bahwa guru harus selalu siap meng-upgrade dan meng-update diri.

Pada pertengahan Maret, tepatnya tanggal 16 Maret 2020, pembelajaran di Kabupaten Jombang mulai dilaksanakan secara daring (Online) atau dikenal dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) padahal pada saat itu, saya baru saja kembali dari cuti melahirkan. Jadilah saya mengajar hanya 1.5 bulan dalam semester genap tahun pelajaran 2019/2020. 

Sebagai guru Bahasa Inggris yang mengajar di Sekolah Menengah Pertama (SMP), saya sudah akrab dengan beberapa platform pendidikan, seperti Edmodo dan media pengajaran online seperti Facebook, What’s App, Quizziz dan lain-lain jauh sebelum adanya pandemi ini. Namun penggunaanya tidak maksimal dan hanya sebagai ikhtiar untuk mengakrabkan siswa dengan teknologi. Pembelajaran di kelas tetap prioritas. Dalam masa 1.5 bulan sebelum PJJ, saya sempat menerapkan aplikasi Plickers dalam penilaian berbentuk kuis di mana saya menggabungkan media cetak dan online dalam satu waktu. Jadi, saya melaksanakan blended learning. Plickers saya pilih karena tidak semua siswa memiliki gawai untuk mengakses internet. Saya merasa cukup puas dengan penerapan Plickers, baik dalam proses penerapan maupun pemanfaatan hasilnya karena saya anggap sesuai untuk konteks belajar sekolah di mana sekolah/guru sudah memiliki fasilitas teknologi namun tidak semua siswa mempunyai gawai/gadget untuk mengakses internet. Saya berencana menerapkannya di kelas kelas lain yang saya ajar. Namun, kartu kartu jawab yang sudah saya cetak terpaksa masuk kotak kumpulan media saya karena saya tidak lagi bisa berjumpa dengan siswa di kelas. 

Banyak hal yang menjadikan pengalaman PJJ ini akan sulit dilupakan dan bisa menjadi cerita klasik untuk masa depan, meminjam istilah lagu Sheila On Seven yang pernah hits. Bagaimana tidak, sejak saya menjadi murid hingga menjadi guru, baru sekarang ini saya menyaksikan sebuah revolusi dalam dunia pendidikan. Baik pemerintah, pemangku kepentingan, siswa, guru bahkan wali murid harus ambil peran secara mendadak dan serentak demi kelangsungan pendidikan putra-putri bangsa. 

Ketika PJJ dimulai, hal pertama yang kami, sebagian guru, lakukan adalah memanfaatkan aplikasi What’s App (WA) yang sebelumnya sudah ada sebagai platform di mana guru membuat pengumuman, memberi tugas, dan menampilkan materi yang ada. Akan tetapi, dengan jumlah kelas yang banyak dan juga gendut, guru mulai kuwalahan untuk menerima kiriman tugas siswa. Selain memanfaatkan WA, guru juga memanfaatkan google form baik sebagai bentuk laporan belajar maupun penilaian. Hal lain yang kami lakukan adalah melakukan manajemen kelas dengan membentuk grup-grup matpel, wali kelas, dan grup wali murid. Dari grup-grup inilah segala bentuk komunikasi dijalin. Siswa diminta tertib dalam pembuatan profil WA dan guru mulai membagikan materi, tugas,dan juga mengumpulkan umpan balik siswa dalam aplikasi WA.

Awal tahun pelajaran baru, saya membuat video pembelajaran sesuai himbauan kepala sekolah. Guru-guru yang relatif masih berusia muda bisa belajar secara mandiri dari kanal YouTube, namun beberapa guru yang sudah senior terpaksa membuat video dengan bantuan profesional karena merasa kesulitan untuk melakukan video editing.

Video mampu mengawali PJJ dengan sukses. Isi video berisi perkenalan guru kepada peserta didik dan juga materi bab pertama. Namun, saya merasa perlu untuk membuat variasi media agar siswa tidak jenuh. Saya mulai menjajaki kemungkinan menggunakan google classroom. Dari sini saya mengakrabkan diri dengan google classroom dan mulai memboyong siswa untuk pindah dari grup What’s App ke google classroom.

Tantangan terbesar sebenarnya bukan pada platform atau media, melainkan dari sumber daya manusianya. Kerap kali kami bersama wali kelas harus home visit untuk mengetahui masalah yang dihadapi siswa yang membuat mereka tidak mau bergabung dalam kelas maya atau kenapa mereka tidak mengirim tugas.Di lain pihak, banyak keluhan dari wali murid yang kita terima, baik secara langsung maupun di media sosial. Wali murid menganggap tugas dari guru terlalu banyak sehingga membebani siswa yang secara otomatis juga wali murid karena ketika tugas siswa banyak, tugas orang tua untuk mendampingi putra-putri mereka juga lebih berat. Keluhan tidak hanya terkait tugas guru. Keluhan lainnya terkait dengan kuota dan gawai.  

Seperti yang kita ketahui bersama, tidak semua siswa dan wali murid berasal dari keluarga mampu. Di awal-awal pandemi, sebagian siswa tidak bisa mengikuti pembelajaran dan penilaian secara lancar, bahkan tidak mengikuti sama sekali. Hal ini karena mereka tidak punya paket kuota atau gawai mereka tidak mendukung. Di lain pihak, sekolah kami mengadakan penilaian secara daring dengan aplikasi Exambro pada UTS semester ganjil 2020/2021. Yang terjadi adalah setiap malam sebelum pelaksanaan, wali kelas harus memastikan bahwa keesokan harinya siswa siap untuk mengikuti PTS, baik dari segi HP, kuota, dan kehadiran. Keesokan harinya, wali kelas siaga untuk berkoordinasi dengan panitia. Panitia melaporkan siapa saja yang tidak masuk sistem di grup WA sekolah. Selanjutnya, wali kelas menghubungi siswa yang belum juga mengikuti ujian online padahal waktu sudah mulai. 

Salah satu pengalaman unik saya adalah ketika saya harus mendatangi siswa di rumahnya. Namun ternyata alamat rumahnya sudah ganti. Jadi, pagi itu saya menghabiskan waktu sekitar satu jam untuk mencari alamat siswa tersebut. Setelah bertemu, ternyata kendalanya adalah HP dalam keluarga itu hanya ada satu. Si kakak juga sedang ujian dan siswa saya mengerjakan setelah si kakak selesai, padahal mereka punya jadwal ujian yang sama. Sebagai solusi, siswa boleh mnegerjakan dari komputer sekolah. Mengetahui hal ini, siswa tersebut berangkat ke sekolah dengan mengikuti protokol kesehatan tentunya. 

Setelah PJJ berjalan sekian minggu, beberapa kendala seringkali harus diatasi. Mulai dari mendatangi siswa ke rumahnya hingga instruksi di kelas maya yang dirasa tidak jelas. Jadi, sering kali guru harus menjelaskan ulang secara japri. Selain itu, siswa mengumpulkan tugas sekenanya saja. Kadang tugas pagi dikumpulkan malam hari. Dan hal yang paling menakutkan dari hal hal tersebut di atas adalah ketika PJJ mulai menemui titik kejenuhan, baik dari siswa maupun guru. Peran guru untuk memahami dan menindaklanjuti situasi ini sangat diperlukan. Dari berbagai hasil pengamatan dan investigasi, baik secara individu maupun hasil diskusi dengan rekan sejawat, kunci keberhasilan dari PJJ ini tidak melulu bertumpu pada teknologi dan fasilitas yang ada. Kenyataan di lapangan, komitmen dari guru, siswa dan wali murid menjadi kunci utama keberhasilan PJJ ini. 

Berapa banyak orang tua yang mampu mendampingi putra-putrinya untuk belajar? Dengan menyediakan hp berteknologi mumpuni dan kuota tak terbatas nyatanya tidak serta merta membuat orang tua bisa bernafas lega karena putranya mengikuti PJJ dengan baik. Tidak jarang kami, para guru, merasa kasian kepada orang tua, ketika mendapati kenyataan bahwa anak-anak membohongi orang tuanya. Pamit ke wifi atau berjam jam berkutat dengan hp, ternyata mereka hanya bermain game online. Dan orang tua kaget ketika guru home visit dan mendapati diri mereka ditipu. 

Pandemi ini seolah memberikan peringatan kepada orang tua akan pentingnya peran serta mereka dalam pendidikan. Jika selama ini orang tua dengan mudah mengkririk guru, sekarang dengan melihat beratnya mendidik anak anak mereka di rumah, mereka menjadi sadar pentingnya guru dalam pendidikan. Tidak sedikit meme dan video lucu yang beredar di dunia maya yang seolah mempertegas betapa orang tua sangat mengandalkan guru dan merasa tidak mampu melaksanakan pembelajaran di rumah. Di lain pihak, PJJ juga memberikan kesempatan bagi orang tua untuk turut juga meningkatkan peran serta mereka dalam mendidik.

Bagi beberapa siswa, PJJ ini seperti berkah. Hasil survey yang saya lakukan menunjukkan bahwa beberapa siswa menikmati PJJ ini karena mereka punya waktu yang lebih untuk bermain. Mereka tidak perlu bangun pagi dan jauh jauh berangkat ke sekolah. Mereka juga bisa punya alasan untuk meminta dibelikan gawai canggih dengan alasan untuk belajar. Di lain pihak, siswa yang punya antusiasme yang tinggi untuk belajar, tidak sabar lagi menunggu pandemi ini berakhir. Mereka sudah rindu dengan guru-guru dan teman mereka dan mengeluhkan segala kekurangan PJJ.

Bagi guru, PJJ ini benar benar sebuah alarm untuk selalu meningkatkan kompetensi diri, baik dari segi pedagogik, professional maupun sosial. Guru dituntut untuk mampu mengelola manajemen kelas berbasis teknologi internet. Mereka juga harus memikirkan cara-cara jitu untuk bercengkrama dengan peserta didik secara daring. Selain itu, guru harus senantiasa mempelajari cara-cara membuat media pembelajaran yang efektif dan bervariasi. Untuk itu, guru harus mempererat jalinan komunikasi dalam forum guru nntuk terus berbagi dan belajar mengatasi masalah dan menemukan solusi bersama.   

      Saya dan segenap guru harus sadar bahwa kami harus belajar secara terus menerus seperti yang selama ini kami dengungkan, yaitu life long education, suatu kesadaran bahwa perubahan adalah keniscayaan. Sehingga terlepas dari adanya wabah Corona ini  ke depannya, guru harus terus meng-update, harus terus memperbaharui diri dengan kemajuan teknologi. Selain itu, guru harus selalu meng-upgrade diri, menigkatkan kompetensi sehingga selalu mampu menghadapi tantangan yang ada. Harapan kami, semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan kemampuan dan kekuatan kepada kami untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. 



No comments:

Post a Comment